|
Batam (BCZ) Hidup di jalanan bukanlah pilihan anak-anak ini.
Masa-masa indah di masa kecil pun hilang. Kehidupan yang keras terpaksa
mereka tempuh. Pengalaman pahit nan getir inilah yang pernah dirasakan
Riya Noviyanti Kosasih (27) dan Acil (29).
KEDUANYA kini memilih hidup untuk menjadi pendamping para anak jalanan di Rumah Perlindungan Anak Batam. Pekerjaan ini memerlukan kerelaan untuk menjadi seorang sahabat, kakak, yang mau berbagi waktu, berbagi cerita dan pengalaman hidup akan sebuah cita-cita.
Lima anak jalanan, dua di antaranya, Galih (11) dan Ade Putra (13) sedang latihan gerakan breakdance. Satu orang lagi hanya memperhatikan Galih dan Ade. Sementara dua lainnya, belajar dan mengambar. Di tengah keasikan bermain dan belajar itu, tiba-tiba Riya Noviyanti Kosasih yang biasa disapa Novi mengingatkan anak-anak itu.
Mereka harus belajar dan menjaga kebersihan. Tidak hanya mengingatkan, wanita kelahiran Jakarta 29 April 1981 ini juga membimbing dan memberikan keahlian pada anak-anak jalanan itu.
”Di sini mereka saya ajarkan khusus untuk perempuan ya memasak, membuat kue. Kalau yang lainnya diajarkan membuat keterampilan,” ujar Novi.
Di rumah yang dulunya diberi nama Rumah Singgah itu, ada sekitar 20 anak jalanan. Mereka rata-rata pengamen, tukang semir sepatu, dan jualan koran. Novi dan Acil menjadi pendamping dan teman dalam sehari-hari bagi anak-anak jalanan. Selain memberikan keterampilan sebagai bekal, Novi dan Acil juga memberikan tuntutanan akhlak.
”Di sini (Batam) akhlak dan sikap sopan santun anak-anak jalanan kurang,” ungkap wanita yang menetap di Puri Agung 2 Blok G-37, Tanjungpiayu ini.
Dalam pendampingannya, anak-anak jalanan itu diajarkan bertanggungjawab dan mandiri. Bahkan ia mengajarkan agar jangan pernah andalkan orang tua.
”Karena saya sudah pernah mengalaminya. Tapi mereka tidak percaya karena melihat keadaan saya sekarang,” katanya.
Pengalaman sebagai anak jalanan, memang menjadi latar belakang ketertarikan Novi terjun menjadi pendamping anak jalanan. Ia menceritakan, akibat perceraian orang tuanya, ia turun ke jalanan. Hal itu dilakukan bukan dalam keadaan terpaksa. Tapi keinginan sendiri untuk bisa mandiri.
”Saya pernah rasakan turun ke jalanan. Berjualan kacang. Dulu, di Jakarta,” bebernya.
Dari pengalaman getir itu, ia kerap sedih melihat anak-anak yang terpaksa turun ke jalanan. Terpaksa oleh keadaan dan dipaksa oleh orang-orang terdekatnya.
”Itulah yang membuat sedih karena dipaksa bekerja. Kalau saya memang atas kemauan sendiri. Saya pun tetap sekolah dan mengaji,” kenang alumni SMK Ibnu Sina ini.
Mendampingi dan membimbing anak jalanan, bukan tanpa kendala. Mengajar mereka untuk disiplin dan menjaga kebersihan adalah hal yang paling sulit. Pasalnya, mereka sudah terbiasa dengan kebebasan.
”Karena saya memang disiplin, terbiasa bersih dan tegas, maka itu yang saya tekankan pada mereka,” ujarnya.
Terkait dengan sikap disiplin, untuk melatihnya, lanjut Novi, anak-anak jalanan itu dibiasakan untuk menabung setiap hari. Mereka membuat celengan masing-masing dan harus diisi jika pulang berjualan koran, menyemir, atau mengamen.
”Tapi susah juga untuk menabung tiap hari karena sering mereka gantian kerja,” imbuh Novi.
Kendala paling utama adalah soal finansial. Menurut Novi, selain dana dari yayasan, mereka hanya mengandalkan dana dari masyarakat untuk kegiatan anak-anak jalanan itu. ”Saya kadang minta dari teman-teman,” ungkapnya.
Hasil kerajinan dan kue-kue kering yang dipasarkan dengan terbatas, katanya, belum bisa diandalkan untuk mendanai kegiatan anak-anak jalanan itu. ”Hanya cukup untuk kebutuhan sendiri,” kata wanita berkacamata ini.
Dari pengalaman akhirnya menjadi panggilan jiwa bagi Novi untuk terlibat penuh di bidang sosial. Sebelum menjadi pendamping anak jalanan, ia juga menjadi relawan PMI, relawan di Casper YPAB yang menangani HIV/AIDS. Sementara sebagai pendamping anak jalanan baru tiga tahun terakhir ini. Pekerjaan itu pun dijalaninya dengan enjoy. (BP/uma)
|