|
Tokyo (BCZ) Beberapa tahun yang lalu ketika butik Armani yang pertama
di dirikan di Cina, seorang pembeli mendatangi butik tersebut untuk
memperbandingkan dua buah kaos merk Armani.
Ia ingin mengetahui kenapa sebuah kaos yang ia beli di butik tersebut mempunyai label ‘made in China’, sementara kaos yang lain yang harganya lebih murah berlabel ‘made in Italy’. Kaos kedua yang bertuliskan buatan Italia tersebut tentu saja palsu karena Armani mengklaim mereka sudah tidak memproduksi lagi barang buatan mereka di Italia.
Saat ini masih banyak orang yang dibingungkan dengan produk mana yang asli dan mana yang palsu dan tentang kualitas produk yang mereka jual di pasaran. Label ‘Buatan Italia’ tidak memberikan jaminan bahwa tas atau sepatu tersebut dibuat oleh para pengrajin dari Italia. Kini banyak beredar barang yang pengerjaannya dikerjakan di negara lain namun kemudian diberi label sebagai buatan Italia.
Menghadapi para pelanggan mereka yang sangat kritis terhadap kualitas produk mereka, para pembuat barang tersebut menyatakan pembuatan produk mereka di luar negeri hanya dilakukan untuk membuat biaya produksi menjadi agak murah sehingga harga jual produk mereka di pasaran bisa lebih terjangkau bagi masyarakat.
“Banyak pelanggan yang menyatakan pembuatan produk yang tidak dilakukan di negara asal akan menurunkan kualitas produk tersebut. Pelanggan tersebut hanya membicarakan tentang persepsi mereka karena kita tidak ada alasan bahwa kita untuk tidak bisa membuat barang yang bagus di semua tempat di dunia selagi kita mempunyai jiwa seni dan perhatian terhadap kualitas dari produk tersebut,” ujar John Hook, deputi Manajer Giorgio Armani.
Rendahnya harga tenaga kerja di Asia membuat para designer bisa memanfaatkan lebih banyak dana mereka untuk menyediakan kain rancangan dan penggabungan teknik daripada yang mereka dapatkan di Eropa.
“Jika kita terlalu terobsesi dengan ‘made in Italy’ dan ‘ made in France’ akan membuat kita menilai produk lain dengan sudut negatif. Hingga akhirnya kita akan menyadarinya saat kita merasakan harga produk tersebut sudah kelewat mahal,” tambahnya.
Dia menambahkan pembuatan produk mereka di Afrika dan Asia sebagai bonus dan merupakan bagian dari trik marketing mereka agar produk tersebut bisa dikenal dan diterima oleh masyarakat di penjuru dunia.(jhs)
|