BP Batam Jelaskan Kondisi Air Batam dan Permasalahannya

Anggota 4 Deputi BP Batam, Purba Robert M .Sianipar, saat memaparkan kondisi air Batam di gedung Marketing BP Batam

BATAM, Kepritoday.com –  Badan Pengusahaan (BP) Batam, Selasa. (07/Februari/2017), dalam press konferensi nya menjelaskan pengelolaan daerah tangkapan dan genangan waduk di Batam dan kondisinya, saat ini waduk air di Barelang memiliki 10 (sepuluh ) waduk di antaranya waduk Sei Harapan 210 liter perdetik, waduk Muka Kuning 310 liter perdetik, waduk Sei Tembesi (sedang di bangun) 600 liter perdetik, waduk Sei Ladi 240 liter perdetik, waduk Baloi 30 liter perdetik, waduk Nongsa 60 liter perdetik, waduk Duriangkang 3000 liter perdetik, waduk Sei Galang, waduk Rempang 232 liter perdetik, waduk Rempang Utara Sei Cia 275 liter perdetik, dan waduk Sei Gong 332 liter perdetik.

Total kapasitas air Batam 4.420 liter/detik sedangkan untuk kapasitas air Barelang 1.502 liter/detik untuk keseluruhan konsumsi 2.000.000 orang, dan rencana kedepan akan membangun bendungan atau waduk baru di kota Batam (teluk Tering) dan pulau-pulau sekitarnya (air terjun Lingga, teluk Bintan) dan melakukan studi pemanfaatan air sungai Kampar dari Provinsi Riau.

Menurut Anggota 4 Deputi BP Batam, Purba Robert M.Sianipar menerangkan, bahwa jumlah waduk di enam lokasi memiliki kapasitas tampungan waduk air bersih 4.420 liter, kapasitas WTP Aditya Tirta Batam (ATB) saat ini 3.775 liter perdetik.

“Sedangkan kapasitas WTP Batamindo yang ada saat ini 50 liter perdetik, secara masterplan tahun 1991 dapat memenuhi kebutuhan air untuk 1.000.000 orang dan industri 40 M perkubik perhari,” kata Robert.

Untuk kebutuhan air menurut standard WHO 200 liter perhari dan menurut Kemen PUPR minimal 60 liter perhari, untuk tahun 2015 pemakai air per-kapita rata-rata 199 liter perhari. ucapnya.

Robert menjelaskan lagi, dasar hukum pengelolaan dan pengamanan waduk di kawasan PBPB Batam tertuang dalam UU nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, UU nomor 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan, serta peraturan kepala BP Batam nomor 24 tahun 2016 tanggal (18/Oktober/2016), tentang Pengelolaan dan Pengamanan dan Waduk di Kawasan PBPB Batam,”

“Adapun masalah dan tantangan yang di hadapi di daerah tangkapan air waduk tersebut di antaranya perambahan hutan, rumah liar (Ruli), kegiatan peternakan, pertanian dan perikanan, keramba ikan, limbah industri dan rumah tangga, eceng gondok serta kegiatan ilegal lainnya,” kata Robert.

Masalah lainnya pendangkalan waduk akibat erosi dan sendimentasi, perubahan iklim global dengan musim kemarau yang berkepanjangan atau El Nino. tambahnya.

“Peran serta lapisan masyarakat di harapkan mampu menjaga perlindungan dan keamanan daerah tangkapan air dan genangan waduk, maka sangat sulit bagi masyarakat Batam untuk mendapatkan jaminan kelangsungan penyediaan air yang berkualitas dengan jumlah cukup,” tegas Robert. (Osr/Ain).